Malam Mencekam di Puncak Sulibra

“Sejak mulai berpetualang mendaki gunung pada tahun 2015, disinilah saya merasakan malam yang mencekam untuk pertama kalinya di sebuah tempat bernama Puncak Sulibra, Gunung Artapela.”

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama 4 orang rekan saya yaitu Ghiffari, Teguh, Kiki dan Luthfi berkesempatan mendaki Gunung Artapela untuk menenangkan diri sejenak. Gunung Artapela sejatinya merupakan sebuah bukit dengan ketinggian 2194 mdpl yang terletak di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Untuk mencapai puncak, ada 2 jalur yang biasa digunakan antara lain via pacet dan via Pangelengan. Kami memilih menggunakan jalur Pangalengan karena jarak tempuh yang relatif singkat dan pemandangan kebun teh yang sangat indah. Nah, untuk lebih mengetahui informasi pendakian ke Gunung Artapela yang ditulis oleh teman-teman nyikreuh.com silakan klik disini ya.

Hari keberangkatan

Pagi itu, 12 September 2018 saya menyiapkan peralatan-peralatan yang akan digunakan untuk mendaki. Setelah semua terpacking dengan rapih, saya langsung cus menuju titik pertemuan kami yaitu rumah Teguh yang berada di kawasan Antafunny. Personil mulai berdatangan satu per satu. Sekitar pukul 2 siang, kami berangkat menuju Pangalengan melewati panas dan menorobos macetnya Banjaran. Setelah menempuh waktu sekitar 3 jam karena sempat berhenti untuk makan dan membeli logistik, sampailah kami di sebuah warung bernama Warung Dano. Menurut Ghifari, biasanya warung ini dijadikan tempat untuk menitipkan kendaraan. Ternyata disini sangat sepi sekali dan tidak ada orang. Lalu saya coba menghubungi pengurus yang biasanya berjaga disini. Mereka mengatakan bahwa sedang ada rapat sehingga tidak ada yang berjaga. Selain itu, mereka juga beralasan bahwa jika hari kerja memang sepi pendaki sehingga mereka ‘ogah’ menjaga kendaraan karena penghasilannya sedikit. Setiap motor yang dititipkan membayar parkir sebesar 30 ribu per motor. Jika pengunjung yang datang hanya 1-2 motor saja tentunya mereka enggan karena menurut mereka mungkin penghasilannya tidak sebanding dan saya paham akan hal itu. Sampai menjelang sore kami belum melihat kemunculan para penjaga basecamp. Kami pun sepakat menyimpan kendaraan kami di sebuah kebun milik warga lalu menginformasikannya kepada penjaga.

1536943254378

Perjalanan dimulai

Berbekal 2 buah senter dan headlamp, kami pun memulai pendakian menjelang maghrib. Kami mulai memasuki perkebunan warga dan suasana berubah menjadi sangat hening. Tidak ada suara apapun kecuali hembusan nafas dan langkah kaki kami yang terdengar jelas. Untuk mencairkan suasana saya putar lagu di smartphone saya sambil terus berjalan menuju puncak. Satu jam berlalu, sesekali kami istirahat dan tiba-tiba kami tidak bisa melihat apa-apa karena kabut yang sangat tebal. Jarak pandang kami kurang dari 5 meter, udara pun semakin malam semakin dingin. Inilah resiko mendaki malam hari, tentunya kami tidak bisa melihat dengan jelas jalur pendakian. Beruntung Ghifari dan Teguh pernah kesini dan hafal jalurnya. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam 30 menit akhirnya kami tiba di Puncak Sulibra.

Sampai di Puncak Sulibra

Setelah sampai disana, ternyata tidak ada satu orang pun yang ngecamp. Hanya ada rombongan kami yang berdiri di atas tanah yang lapang. Puncak Sulibra merupakan area yang luas, kebanyakan didominasi dengan rumput-rumput yang hijau. Tidak lama kemudian kabut pun perlahan hilang dan dengan bahagianya, kami bisa memandang bintang yang berkilauan di atas sana. Semua sibuk mempersiapkan peralatan tempur DSLR-nya untuk mendapatkan sebuah gambar “milky way”. Saya sangat beruntung, ternyata di penjuru Kabupaten Bandung saya masih bisa menyaksikan pemandangan yang indah ini. Ekspektasi kami berkemah sambil memandang bintang di langit sana menjadi kenyataan. Sembari memotret langit malam, saya iringi lantunan lagu-lagu Adhitiya Sofyan, Payung Teduh dan Banda Neira dengan gitarlele yang kami bawa. Suasana saat itu cukup asik, meski hanya kami berlima yang ada disana.

1537095390909-01

Suasana mulai mencekam

Jam demi jam berlalu, Ghifari sibuk membuat kopi Ijen Blue Mountain dengan seduhan V60-nya. Teguh dan Luthfi masih berkutat dengan perkameraan dan saya bersama Kiki bersenandung di dalam tenda. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, semua personil masuk ke tenda masing-masing. Saya bersama Ghiffari di tenda kapasitas dua orang, sisanya berada di tenda sebelah. Lalu seketika suasana menjadi hening. Disinilah awal mula saya dan teman-teman merasakan aura yang negatif. Suara gonggongan anjing liar terdengar dengan jelas dari kejauhan di luar sana. Entah kenapa malam itu saya tidak bisa memejamkan mata sama sekali padahal tubuh sudah dalam kondisi kelelahan.

Tak lama kemudian, saya mendengar suara aneh dari luar tenda, seperti langkah kaki seseorang padahal sudah sangat jelas disana tidak ada siapa-siapa kecuali kami berlima. Suara tersebut juga didengar oleh Teguh, Kiki dan Luthfi. Tentu saja yang menjadi korban adalah “mereka” yang tidur di paling ujung tenda yaitu saya, kemudian Luthfi dan Kiki di tenda sebelah. Sekitar pukul 12 malam, saya keluar tenda untuk mengambil ponco yang ada di luar sekaligus memastikan bahwa tidak ada siapapun disini kecuali kami. Saya pun tidak melihat hewan yang berkeliaran disana.

Suara itu muncul kembali

Malam itu, sekitar pukul 1 malam saya masih tidak bisa tidur. Ghiffari sudah tertidur pulas, Kiki Teguh dan Luthfi pun tidak terdengar suaranya. Tiba-tiba terdengar suara kembali dari luar tenda, seperti orang bergumam ’emmm’ percis di dekat telinga kiri saya. Saya pikir itu halusinasi saja dan mencoba berfikir positif, mungkin mereka salah satu fans Nissa Sabyan. Namun tak lama kemudian, terdengar suara bisikan yang cukup jelas terdengar oleh Kiki, Teguh dan Luthfi. Saya pribadi tidak mendegar dengan jelas tapi mereka bertiga semuanya mendengar, sontak Kiki panik dan mencoba membangunkan Ghiffari dan memanggil saya untuk keluar.

“Ghif, Gung, tolong keluar sebentar, urgent ini” ucap Teguh.

“Iya ghif asli keluar dulu, ada seseorang di luar!” Kiki menyaut.

Saya hendak keluar tenda, kemudian Ghifari terbangun dan menjawab,

“Apal urang ge apal, geus sare weh ayeuna mah” (Saya tahu, sekarang sudah tidur saja)

Mendengar itu saya semakin tidak bisa tidur, entah kenapa jantung ini berdegup sangat kencang. Saya yakin mereka pun sama. Dalam hati saya membaca ayat kursi untuk menenangkan hati dan pikiran. Suasana semakin mencekam ketika Teguh melihat tangan dari luar menyentuh bagian dalam tenda. Tangan tersebut terlihat dengan jelas mencolok tenda mereka dari atas. Anehnya, tangan tersebut menembus lapisan flysheet. Tangan siapa itu saya tidak tahu, yang jelas menurut Teguh tangan tersebut menyentuh tenda. Ia pun ketakutan dan memasukkan kepalanya ke dalam sleeping bag. Jika itu manusia yang jahil akan terdengar dengan jelas suara dan gerak-geriknya. Suasana semakin tegang, lalu Kiki berkata :

“Siapa di luar? Punten kami tidak ganggu”

Semua tidak ada yang berani keluar, bahkan saya menutup kepala saya dengan sleeping bag juga. Lalu saya duduk, ambil hp dan putar musik untuk menghilangkan ketegangan. Tapi ternyata setelah lagunya saya putar, 3 kali lagu tersebut berhenti dengan sendirinya tanpa sebab. Saya semakin yakin dan percaya ada yang tidak normal disini. Lagu berhenti sendiri, kemudian saya putar ulang dan terus seperti itu hingga kali ketiga. Beberapa saat kemudian, akhirnya lagu yang saya putar berjalan lancar tanpa berhenti. Tentunya ini sangat menenangkan suasana, suara-suara aneh itu pun sudah mulai hilang. Foto dibawah adalah sesuatu yang kami tangkap dengan kamera, kami tidak tau itu apa namun anda bisa menyimpulkannya sendiri.

1537156052362.jpg

Ada hal lucu

Pukul 3 malam, saya masih tidak bisa tidur. Seketika saya ingin buang air kecil, lalu saya pun membuka resleting tenda dan keluar. Tiba-tiba 3 orang dari tenda sebelah pun ikut keluar, katanya ingin buang air kecil juga. Ternyata mereka menahannya selama berjam-jam karena takut keluar tenda dari tadi. Akhirnya kami buang air kecil berjamaah. Aaah lega rasanya hahaha.

Keesokan harinya

Malam yang mencekam sudah kami lewati, semua berubah menjadi pemandangan sunrise yang indah. Rupanya tidak sia-sia kami diterror semalaman. Suasana sudah mulai kondusif, pagi itu Ghiffari membuat Vietnam Drip. Memang mantap barista kita yang satu ini. Menikmati pagi dengan segelas kopi dan senda gurau kawan memang menjadi satu paket yang lengkap dan saya bersyukur masih bisa menikmati momen menyenangkan seperti ini.

1537173592603-01

1537173613661

IMG_20180913_062311[1]

Persiapan pulang

Tapi, masih ada hal aneh yang mengganjal. Tiba-tiba kami semua dikerumuni lalat yang berterbangan seperti bau bangkai. Semua bingung dan merasa tidak nyaman. Kami pun segera packing dan beres-beres untuk segera turun dan meninggalkan tempat ini. Sampai perjalanan turun pun kami berlima masih dikerumuni lalat itu. Jika kami berhenti, mereka hinggap di carrier kami sampai kami tiba di basecamp pun masih ada. Kami semua tidak mengerti dan bertanya-tanya. Akhirnya kami pun bergegas pulang kembali menuju Bandung. Di tengah perjalanan pulang, kami singgah di sebuah warung makan. Sambil beristirahat kami saling berbagi pengalaman apa yang kami rasakan semalam. Berbekal rasa penasaran, Teguh mulai browsing mengenai misteri puncak Sulibra. Dan ternyata setelah membaca tulisan di salah satu blog, kami menyimpulkan bahwa kami mengalami persis apa yang mereka tulis. Dari munculnya suara aneh hingga dikerumuni banyaknya lalat seperti bangkai. Tapi alhamdulillah kami bisa sampai ke rumah masing-masing dengan selamat serta masih diberikan kesehatan sampai saat ini. Tentu ini merupakan pengalaman mistis yang tidak bisa saya lupakan.  Sekian cerita dari saya. Terima kasih teman-teman.

1536943276241

“Saya memang tidak mampu melihat sesuatu yang ghaib, namun setidaknya siapapun pasti bisa mendengar dan merasakan. Mungkin beberapa orang juga begitu. Kita tidak akan mempercayai sesuatu hal apapun jika bukan kita sendiri yang mengalaminya. Pesan saya, jika berkunjung ke suatu tempat mana pun pada hakikatnya kita adalah tamu dan harus menghargai satu sama lain. Jika niat kita memang baik, insyaAllah kita dijauhkan dari hal-hal yang buruk.”

Iklan

3 tanggapan untuk “Malam Mencekam di Puncak Sulibra”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s